ayojatim.com skyscraper
ayojatim.com skyscraper

Bisakah Korupsi Dilihat Sebelum Terjadi?

avatar Ulul Albab
  • URL berhasil dicopy
Foto: Ilustrasi/Gemini
Foto: Ilustrasi/Gemini

Oleh: Ulul Albab
Akademisi, Ketua ICMI Jawa Timur

PADA tulisan sebelumnya saya mengajukan satu pertanyaan: “mengapa negara selalu terlambat?” Korupsi diketahui setelah uang hilang. Penyimpangan ditemukan setelah terjadi kerugian. Pengawasan dilakukan setelah masalah semakin menjadi tidak karuan.

Kini muncul pertanyaan berikutnya yang tidak kalah menarik. Yaitu: “Bisakah korupsi dilihat sebelum terjadi?” Mungkin banyak yang menjawab: “tidak bisa”. Karena korupsi terjadi di dalam pikiran manusia.

Tidak ada yang bisa membaca niat seseorang. Saya setuju itu. Tetapi sebetulnya yang perlu dilihat bukan niatnya. Tapi gejalanya.

Dalam dunia kesehatan, dokter sering tidak mengetahui kapan penyakit akan muncul. Tapi dokter dapat membaca tanda-tanda gejala dan resikonya. 

Karena itulah pengobatan modern tidak hanya berfokus pada penyembuhan, tetapi juga pada pencegahan. Nah, mengapa prinsip yang sama tidak kita terapkan dalam tata kelola publik?

Bukankah setiap penyimpangan yang terjadi biasanya tidak muncul begitu saja. Hampir selalu ada tanda-tanda yang mendahuluinya: Anggaran yang tidak wajar. 

Transaksi yang berulang dengan pola yang sama. Kenaikan biaya yang sulit dijelaskan. Atau perubahan perilaku yang menyimpang dari kebiasaan sebelumnya.

Masalahnya, sering kali tanda-tanda tersebut tersebar di berbagai tempat dan tidak pernah dibaca sebagai satu kesatuan. Akibatnya, negara baru mengetahui masalah ketika semuanya sudah terlambat.

Menurut saya, inilah tantangan besar tata kelola modern. Bukan sekedar memperkuat pengawasan setelah kejadian, tetapi membangun kemampuan membaca pola gejala dan risiko sebelum masalah membesar. 

Karena setiap penyimpangan yang berhasil dicegah pasti jauh lebih berharga daripada penyimpangan yang berhasil diungkap setelah kerugian terjadi.

Editor :