Ini Tanggapan Anas Urbaningrum soal Statment Ketum Projo Budi Arie Tentang Perubahan Sebelum 2029

Reporter : Diday Rosadi
Politikus Anas Urbaningrum. foto: istimewa.

JAKARTA - Pertengkaran terkait omongan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi di depan Jokowi soal Perubahan Sebelum 2029 bukanlah hal yang penting. Karena hanya akan menjadi “perdebatan klise” dan “baku pertuduhan”. 

Hal tersebut disampaikan oleh Anas Urbaningrum pada siaran persnya yang diterima awak media, Rabu, (26/8/2026).

Baca juga: Gula-Gula Infrastruktur Selama 10 Tahun Era Jokowi

Mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat itu menilai justru yang tinggi urgensinya adalah bagaimana melakukan “modifikasi cuaca politik” dengan serius.

Apa langkahnya? kata Anas, ia menyarakankan, sungguh-sungguh memperbaiki, meningkatkan prestasi Pemerintah.

Menurutnya, perbaikan kinerja adalah kunci. Kebijakan yang baik diimplementasikan dengan baik dan benar. 

“Dongkrak hasilnya sampai titik paling optimal. Terhadap kebijakan yang dikritik dilakukan evaluasi dan koreksi. Berani koreksi adalah baik dan benar. Termasuk jika konteksnya adalah koreksi pada level implementasi,” tutur eks Ketua Umum PB HMI ini 

Selanjutnya, perbaikan komunikasi pemerintah. Kebijakan yang baik harus dikomunikasikan dengan indah.

Baca juga: Dekonstruksi vs Rekonstruksi Pembangunan Nasional

Kebijakan yang dikritik musti ditanggapi dan dijelaskan secara elegan. Residu-residu komunikasi juga penting ditekan sampai sekecil-kecilnya. 

Eks Ketua Umum PKN ini mengungkapkan, langkah selanjutnya, penting bagi Presiden untuk menajamkan daya periksa terhadap laporan dan informasi dari seluruh jajaran pemerintahannya.

Hal demikian berguna untuk menekan laporan ABS (Asal Bapak Senang). Laporan yang serba manis musti diperiksa dan ditelaah dengan parameter yang faktual-obyektif.

“Para pembantu Presiden di bidang periksa dan telaah musti bekerja lebih keras dan berani menyampaikan secara obyektif, berbasis data otentik. Presiden perlu informasi yang obyektif untuk ambil langkah dan kebijakan yang tepat, bukan yang kosmetik. Presiden perlu laporan yang obyektif-optimis, bukan polesan pemanis,” imbuh AU.

Baca juga: Prabowo dan Jejak Bayang-Bayang Jokowi, Antara Persepsi dan Realitas

Jika langkah-langkah itu dilakukan, lanjut Anas, cuaca politik akan termodifikasi baik, menjadi lebih teduh dan stabil, karena berbasis utama pada perbaikan tingkat kepuasan publik.

Demokrasi yang sehat bukan saja perlu stabil dan damai, tetapi juga produktif.

“Demokrasi kita harus dijaga untuk terus bergerak maju, sehat dan produktif. Bukan yang maju-mundur, penuh retakan dan sering disertai patahan,” tambah Anas.

Editor : Diday Rosadi

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru