Ketika Indonesia Memilih Jalan yang Tidak Dipilih Dunia

Menguji Gagasan CNG Tabung 3 Kilogram di Tengah Krisis LPG Bersubsidi

ayojatim.com
Tri Prakoso, SH., M.HP., WKU Bidang Migas Kadin Jawa Timur. Foto/Dok Pribadi

Oleh: Tri Prakoso, SH., M.HP.
WKU Bidang Migas Kadin Jawa Timur

INDONESIA menghadapi paradoks energi yang semakin nyata. Di satu sisi, negeri ini memiliki cadangan gas bumi yang besar. Di sisi lain, kebutuhan memasak jutaan rumah tangga masih bergantung pada LPG, yang sebagian besar dipenuhi melalui impor. Akibatnya, beban subsidi terus meningkat, sementara APBN semakin rentan terhadap fluktuasi harga energi global dan nilai tukar rupiah.

Baca juga: Diam yang Bergerak: Sebuah Perenungan tentang Sabar dan Tenang

Dalam konteks itu, pemerintah menggagas pemanfaatan Compressed Natural Gas (CNG) dalam tabung kecil sebagai alternatif LPG 3 kilogram bersubsidi. Gagasan ini menjanjikan tiga manfaat sekaligus: mengurangi impor LPG, menekan subsidi, dan memperkuat ketahanan energi nasional.

Namun, muncul pertanyaan mendasar. Mengapa negara-negara dengan konsumsi gas bumi terbesar justru tidak menggunakan tabung CNG kecil untuk rumah tangga? Mengapa mereka lebih memilih jaringan gas kota (piped natural gas) atau memanfaatkan CNG untuk sektor transportasi? Pertanyaan ini penting karena kebijakan energi tidak cukup dinilai dari murahnya harga bahan bakar, tetapi harus diuji dari aspek teknik, ekonomi, keselamatan, dan kesiapan ekosistem industrinya.

Krisis LPG memang nyata. Program konversi minyak tanah ke LPG sejak 2007 berhasil meningkatkan akses energi bersih bagi masyarakat. Namun, keberhasilan itu juga melahirkan ketergantungan baru. Kini lebih dari 70 persen kebutuhan LPG nasional dipenuhi melalui impor sehingga Indonesia menjadi salah satu importir LPG terbesar di dunia.

Keinginan pemerintah memanfaatkan gas bumi domestik tentu patut diapresiasi. Persoalannya bukan pada tujuan, melainkan pada pilihan teknologi. Apakah CNG tabung kecil benar-benar solusi terbaik, atau hanya tampak murah karena perhitungan masih berhenti pada harga gas di hulu?

Di sinilah pentingnya membedakan harga komoditas dan biaya sistem. Gas bumi memang lebih murah dibandingkan LPG impor. Akan tetapi, agar CNG dapat digunakan di rumah tangga, diperlukan tabung bertekanan tinggi, regulator khusus, fasilitas kompresi, stasiun pengisian, armada distribusi, sistem inspeksi berkala, teknisi tersertifikasi, hingga kompor yang kompatibel. Semua itu merupakan investasi baru yang harus dihitung sebagai bagian dari biaya keseluruhan.

Karena itu, perbandingan CNG dan LPG seharusnya menggunakan pendekatan Total Cost of Ownership (TCO), yaitu menghitung seluruh biaya sepanjang umur sistem, mulai dari investasi, operasi, inspeksi, pemeliharaan, hingga penggantian peralatan. Tanpa pendekatan ini, penghematan subsidi berpotensi menjadi ilusi karena biaya hanya berpindah dari satu pos anggaran ke pos lainnya.

Secara teknis, CNG dan LPG juga merupakan dua sistem yang sangat berbeda. LPG disimpan dalam bentuk cair pada tekanan relatif rendah, sedangkan CNG disimpan sebagai gas yang dimampatkan hingga sekitar 200 bar. Perbedaan ini mengubah seluruh desain sistem.

Tabung CNG bukan sekadar wadah penyimpanan, tetapi merupakan pressure vessel yang harus memenuhi standar keselamatan sangat ketat. Material, katup, regulator, metode pengisian, hingga inspeksi berkala tidak dapat disamakan dengan tabung LPG.

Sering dikemukakan bahwa CNG lebih aman karena metana lebih ringan daripada udara sehingga cepat menyebar ketika bocor. Pernyataan tersebut benar, tetapi tidak lengkap. Keselamatan sistem tidak hanya ditentukan oleh sifat gas, melainkan juga oleh tekanan operasi, kualitas material tabung, keandalan regulator, prosedur pengisian, distribusi, inspeksi, dan perilaku pengguna.

Indonesia membutuhkan standar keselamatan khusus apabila ingin mengembangkan CNG rumah tangga. Standar tersebut harus mengatur desain tabung, umur pakai, inspeksi berkala, sistem pelacakan, prosedur pengisian, hingga mekanisme penarikan produk apabila ditemukan cacat.

Persoalan lain adalah densitas energi. Walaupun nilai kalor metana tinggi, densitas energi volumetriknya lebih rendah dibandingkan LPG yang disimpan dalam fase cair. Konsekuensinya, untuk memperoleh energi yang setara dengan LPG 3 kilogram, dibutuhkan tabung yang lebih besar atau tekanan penyimpanan yang jauh lebih tinggi.

Baca juga: Konversi Energi Kedua Republik Indonesia: Amanat Penderitaan Rakyat Madura

Hal ini berimplikasi langsung pada distribusi. Semakin rendah densitas energi per volume, semakin banyak perjalanan distribusi yang diperlukan untuk mengantarkan energi dalam jumlah yang sama. Biaya logistik pun meningkat dan dapat mengurangi keunggulan harga gas bumi di hulu.

Tidak mengherankan apabila negara-negara seperti China, India, Iran, maupun berbagai negara Eropa memilih membangun jaringan gas kota sebagai solusi rumah tangga. Rumah merupakan objek tetap sehingga lebih efisien dilayani melalui jaringan pipa. Sebaliknya, CNG lebih banyak digunakan pada kendaraan yang memang membutuhkan penyimpanan energi bergerak.

Indonesia memang memiliki tantangan geografis yang berbeda sehingga jaringan gas tidak mungkin menjangkau seluruh wilayah. Karena itu, CNG tabung kecil mungkin memiliki ruang untuk daerah tertentu yang dekat dengan sumber gas tetapi belum ekonomis dilayani jaringan pipa. Namun, posisi tersebut seharusnya dipandang sebagai solusi spesifik wilayah, bukan pengganti nasional LPG.

Apabila pemerintah tetap ingin mengembangkan CNG rumah tangga, langkah pertama yang harus dilakukan adalah proyek percontohan terbatas.

Proyek ini harus menjadi laboratorium kebijakan untuk menguji biaya, keandalan sistem, keselamatan, kenyamanan pengguna, efektivitas distribusi, serta kesiapan industri nasional.

Evaluasi harus dilakukan secara independen dan hasilnya dipublikasikan secara terbuka. Jika terbukti ekonomis dan aman, program dapat diperluas secara bertahap.

Sebaliknya, apabila biaya sistem terlalu tinggi atau risiko sulit dikendalikan, pemerintah harus berani mengoreksi kebijakan berdasarkan bukti, bukan mempertahankan keputusan demi alasan politik.

Baca juga: Ilusi Stabilitas: Membaca Alarm di Balik Outlook Negatif Moody’s

Program CNG juga dapat menjadi peluang industrialisasi nasional apabila diarahkan untuk membangun kemampuan manufaktur tabung, regulator, katup, kompresor, dan sistem inspeksi di dalam negeri.

Namun, jika seluruh komponen masih bergantung pada impor, Indonesia hanya akan mengganti ketergantungan terhadap LPG dengan ketergantungan baru terhadap teknologi asing.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar memilih antara LPG dan CNG. Yang sedang dipilih adalah budaya pengambilan keputusan teknologi.

Indonesia tidak harus mengikuti jalan yang ditempuh negara lain. Namun, apabila ingin memilih jalan berbeda, keputusan tersebut harus didasarkan pada kajian ilmiah yang kuat, analisis biaya sistem yang komprehensif, standar keselamatan yang matang, proyek percontohan yang kredibel, serta kesiapan industri nasional.

CNG tabung kecil mungkin dapat menjadi bagian dari solusi ketahanan energi Indonesia. Akan tetapi, ia tidak boleh dipromosikan sebagai pengganti nasional LPG hanya karena harga gas bumi lebih murah.

Dalam kebijakan energi, yang menentukan bukan sekadar harga komoditas, melainkan kemampuan negara membangun sistem yang aman, ekonomis, berkelanjutan, dan bertanggung jawab bagi seluruh rakyat Indonesia.

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru