Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur
(2021-2026)
BEBERAPA hari terakhir media sosial diramaikan oleh sebuah fakta yang mengejutkan. Seorang "ustazah" dengan jutaan pengikut di TikTok ternyata bukan manusia. Wajahnya tampak meyakinkan. Suaranya lembut. Ceramahnya terdengar runtut.
Baca juga: Bolehkah Kita Bertanya Agama kepada Artificial Intelligence?
Penampilannya mencerminkan sosok pendakwah yang santun. Namun di balik semua itu, tidak ada manusia yang sedang berbicara. Yang bekerja adalah rangkaian algoritma kecerdasan buatan.
Peristiwa ini mungkin akan segera tergantikan oleh berita viral berikutnya. Namun bagi saya, persoalan sesungguhnya tidak terletak pada ada atau tidaknya sosok ustazah tersebut. Yang jauh lebih penting adalah pertanyaan untuk menguji cara kita memahami agama, yaitu: bagaimana jika suatu hari nanti manusia tidak lagi mampu membedakan antara guru agama yang nyata dan representasi digital yang diciptakan oleh mesin?
Selama berabad-abad, tradisi keilmuan Islam dibangun di atas hubungan antarmanusia. Seorang murid belajar langsung kepada guru. Seorang guru memperoleh ilmu dari gurunya. Demikian seterusnya hingga terbentuk mata rantai keilmuan yang dikenal sebagai sanad.
Dalam tradisi Islam, ilmu tidak hanya diukur dari apa yang disampaikan, tetapi juga dari siapa yang menyampaikan, bagaimana akhlaknya, bagaimana integritasnya, dan dari mana sumber ilmunya diperoleh.
Karena itu, otoritas keagamaan dalam Islam tidak pernah lahir secara instan. Ia dibangun melalui proses belajar yang panjang, pengakuan masyarakat, keteladanan hidup, dan tanggung jawab moral yang menyertai setiap ilmu yang diajarkan.
Kini kita memasuki sebuah zaman yang sama sekali baru. Artificial Intelligence mampu menyusun ceramah yang runtut, mengutip ayat Al-Qur'an, menghadirkan hadis, menjelaskan pendapat para ulama, bahkan menampilkan wajah dan suara yang begitu alami sehingga sulit dibedakan dari manusia. Dalam hitungan detik, AI dapat menghasilkan ribuan materi dakwah dengan kualitas visual yang sangat meyakinkan.
Di sinilah sesungguhnya sedang terjadi sebuah pergeseran besar. Dahulu masyarakat mempercayai seseorang karena keilmuannya. Kini tidak sedikit orang mempercayai sesuatu karena tampilannya yang meyakinkan. Otoritas menjadi bergeser dari kedalaman ilmu menuju kekuatan algoritma. Popularitas digital mulai bersaing dengan otoritas keilmuan.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam dunia dakwah. Di berbagai bidang, masyarakat semakin terbiasa menerima informasi tanpa terlebih dahulu mengenali siapa yang berada di baliknya. Dalam ruang digital, wajah dapat direkayasa, suara dapat ditiru, bahkan kehadiran seseorang dapat diciptakan sepenuhnya oleh mesin.
Ketika teknologi mampu meniru penampilan manusia dengan sangat sempurna, tantangan terbesar bukan lagi membedakan mana yang asli dan mana yang buatan, tetapi memastikan bahwa ilmu yang kita terima benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.
Islam sesungguhnya telah mengajarkan prinsip yang sangat relevan untuk menghadapi situasi seperti ini. Al-Qur'an memerintahkan orang-orang beriman agar melakukan tabayyun ketika menerima suatu informasi. Perintah ini bukan sekadar etika sosial, tetapi juga fondasi epistemologi Islam, yaitu: setiap pengetahuan harus diverifikasi sebelum dipercaya.
Dalam konteks kecerdasan buatan, semangat tabayyun memperoleh makna baru. Yang perlu diverifikasi bukan hanya isi ceramah, tetapi juga sumber, proses penyusunan, dan pihak yang bertanggung jawab atasnya.
Ini bukan berarti umat Islam harus memusuhi Artificial Intelligence. Sebaliknya, AI merupakan salah satu pencapaian luar biasa akal manusia yang patut disyukuri.
Teknologi ini dapat membantu menerjemahkan kitab, mempermudah pembelajaran Al-Qur'an, memperluas akses terhadap literatur Islam, hingga mendukung penelitian yang selama ini membutuhkan waktu bertahun-tahun. Artinya, dapat dikatakan bahwa potensi kemaslahatan AI sangat besar.
Namun, kita juga perlu menyadari batasnya. AI dapat mengolah data, tetapi tidak memiliki kesadaran moral. AI dapat menyusun kalimat yang indah, tetapi tidak memiliki pengalaman spiritual.
Baca juga: Padahal AI Tidak Bisa Bertakwa, Kecerdasan Tidak Sama dengan Kesadaran Spiritual
AI dapat meniru cara manusia berbicara, tetapi tidak mengenal rasa takut kepada Allah. Ia mampu menghasilkan penjelasan, tetapi tidak memikul amanah sebagaimana seorang guru yang bertanggung jawab atas ilmu yang dia sampaikan.
Karena itu, masa depan dakwah bukanlah memilih antara manusia atau mesin. Masa depan dakwah justru terletak pada kemampuan manusia memimpin teknologi dengan nilai-nilai Islam.
Artificial Intelligence seharusnya menjadi alat yang memperkuat peran ulama, bukan menggantikannya; memperluas jangkauan ilmu, bukan mengaburkan sumbernya; memudahkan umat belajar, bukan melemahkan tradisi keilmuan yang telah diwariskan selama berabad-abad.
Fenomena "ustazah AI" mungkin hanya sebuah peristiwa kecil dalam sejarah perkembangan teknologi. Namun di balik peristiwa itu tersembunyi pertanyaan besar yang akan terus menyertai perjalanan umat manusia, yaitu: ketika mesin semakin pandai berbicara tentang agama, apakah manusia juga sedang semakin bijaksana dalam memilih kepada siapa ia belajar?
Editor : Alim Perdana