5th Ciputra Film Festival Usung Tema MOSAIC, Hadirkan Riri Riza hingga Wregas Bhanuteja di Surabaya

ayojatim.com
Sutradara dan produser film, Riri Riza hadir berbagi cerita di 5th Ciputra Film Festival 2026 di Surabaya Jumat (5/6/2026). Foto: CFF/Ayojatim

SURABAYA, AYOJATIM.COM - Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) Universitas Ciputra Surabaya kembali menggelar 5th Ciputra Film Festival (CFF) dengan mengusung tema “MOSAIC”, sebuah ruang eksplorasi kreativitas dan identitas generasi muda melalui karya film.

Festival yang berlangsung pada 2–6 Juni 2026 ini digelar di Universitas Ciputra Surabaya, V-Walk Atrium, dan XXI Ciputra World Surabaya.

Memasuki penyelenggaraan tahun kelima, CFF semakin menunjukkan eksistensinya sebagai salah satu festival film kampus yang berkembang di Indonesia. Tahun ini, festival menerima lebih dari 280 karya film dari 35 negara, menandai peningkatan partisipasi internasional sekaligus memperkuat posisi CFF sebagai wadah apresiasi dan kolaborasi kreatif lintas negara.

"Tema “MOSAIC” dipilih sebagai respons terhadap fenomena sosial yang dekat dengan kehidupan generasi muda saat ini. Di tengah derasnya tren dan budaya Fear of Missing Out (FOMO), banyak individu dinilai mulai kehilangan identitasnya karena dorongan untuk mengikuti standar sosial dan budaya populer," tulis panitia penyelenggara melalui keterangan resminya, Minggu (7/6/2026).

Melalui tema tersebut, FIKOM Universitas Ciputra juga ingin mengajak generasi muda untuk memahami bahwa setiap individu memiliki cerita, warna, dan perspektif yang berbeda. Seperti susunan mosaik, berbagai perbedaan itu justru membentuk kesatuan yang utuh dan bermakna.

Tak hanya menjadi ruang pemutaran film, 5th CFF juga menghadirkan beragam program edukatif dan interaktif, mulai dari expert session, workshop, pameran, kompetisi film, pemutaran karya pilihan (official selection), hingga malam penganugerahan (awarding night).

Festival dibuka pada 2 Juni 2026 di Dian Auditorium Universitas Ciputra Surabaya melalui sesi diskusi bersama produser, penulis skenario, sekaligus CEO Paragon Pictures, Robert Ronny. Dalam sesi tersebut, ia membagikan pengalaman dan pandangannya mengenai perkembangan industri perfilman Indonesia.

Hari pertama kemudian ditutup dengan pemutaran khusus “Synergy Pieces”, hasil kolaborasi antara CFF dan Studio Cerita Mojokerto.

Pada hari kedua, festival berpindah ke V-Walk Atrium dan XXI Ciputra World Surabaya dengan menghadirkan berbagai kegiatan seperti pameran fotografi, Open Air Cinema, pemutaran film kolaborasi bersama ISI Bali.

Salah satu agenda yang menarik perhatian adalah Expert Session bersama Chandra Liow bertajuk “Mosaic of Becoming: Finding Passion in Filmmaking”.

Dalam kesempatan itu, Chandra membagikan perjalanan kariernya di industri kreatif digital dan perfilman kepada para peserta.

Rangkaian acara berlanjut pada hari ketiga dengan berbagai program interaktif yang melibatkan komunitas film dari berbagai daerah. Mulai dari workshop fotografi, forum komunitas, hingga workshop crochet bertema mosaik yang menjadi bagian dari eksplorasi kreativitas lintas medium seni.

Pada hari yang sama, aktris Adinia Wirasti hadir sebagai pembicara dalam sesi diskusi publik. Ia berbagi pengalaman mengenai perjalanan karier, proses pendalaman karakter, serta pandangannya terhadap perkembangan industri perfilman nasional.

Sementara itu, hari keempat menghadirkan salah satu figur penting perfilman Indonesia, yakni Riri Riza. Dalam sesi bertajuk “Pieces of Mosaic”, sutradara dan produser film tersebut membahas proses kreatif, dinamika industri film, hingga pentingnya keberagaman cerita dalam dunia sinema.

Selain diskusi bersama pelaku industri, hari keempat juga dimeriahkan dengan program CineKids, kompetisi dokumenter, kompetisi film pelajar, serta pemutaran film yang terbuka untuk masyarakat umum.

Puncak festival berlangsung pada 6 Juni 2026 melalui pelaksanaan Awarding Night dan final CFF Project Hunt, program baru yang menjadi pembeda dibanding penyelenggaraan tahun-tahun sebelumnya. Kompetisi ini merupakan ajang pitching ide film yang ditujukan bagi pelajar SMA/SMK sederajat, namun juga terbuka untuk peserta umum.

Melalui mekanisme yang dirancang mendekati standar industri profesional, peserta diberikan kesempatan untuk mempresentasikan ide film mereka secara terstruktur di hadapan dewan juri. Program ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi lahirnya talenta-talenta baru di industri kreatif dan perfilman Indonesia.

Hari penutupan juga menghadirkan sesi diskusi bersama sutradara peraih berbagai penghargaan, Wregas Bhanuteja, yang turut berbagi pengalaman dan perspektifnya mengenai proses berkarya di industri film.

Melalui rangkaian kegiatan selama lima hari, 5th Ciputra Film Festival tidak hanya menjadi ajang apresiasi karya sinema, tetapi juga ruang belajar, berjejaring, dan berkolaborasi bagi generasi muda.

Festival ini sekaligus menegaskan komitmen FIKOM Universitas Ciputra dalam mendukung perkembangan ekosistem perfilman Indonesia melalui keterlibatan aktif sineas muda dari berbagai daerah dan negara.

Editor : Amal Jaelani

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru