Pesan KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor Tentang Ilmu untuk Generasi Zaman Sekarang

ayojatim.com
KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, bersama Ustadz Nafi Unnas. Foto: Nafi Unnas/Ayojatim

OPINI - Di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi hari ini, manusia semakin mudah memperoleh ilmu. Namun sayangnya, tidak semua ilmu membawa manusia menuju kebaikan. Ada ilmu yang menjadi cahaya kehidupan, tetapi ada pula yang justru menyeret manusia kepada kerusakan. Karena itu, para ulama sejak dahulu selalu mengingatkan pentingnya mencari ilmu yang bermanfaat.

Nasihat penuh makna itu kembali disampaikan oleh KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, saat memberikan wejangan kepada saya di Bandara Juanda Surabaya, disela-sela sebelum beliau berangkat menunaikan ibadah haji. Dengan gaya sederhana namun mendalam, beliau berpesan:

Baca juga: Tantangan Ukhuwah Islamiyah di Tengah Derasnya Arus Digital

“Carilah ilmu nafi’, ilmu yang benar-benar bermanfaat. Karena tidak semua ilmu membawa keberkahan. Ada ilmu yang digunakan untuk mencuri, menipu, memfitnah, dan merusak manusia. Maka belajarlah ilmu yang mendekatkan kita kepada Allah, memperbaiki akhlak, dan memberi manfaat bagi sesama,” ujar beliau.

Nasihat sederhana, namun cukup menjadi tamparan sekaligus renungan bagi saya,  dan mungkin juga banyak orang ditengah kompleksnya zaman modern.

Ditengah perkembangan digital yang kian masif hari ini, tak sedikit orang memiliki kecerdasan. Apalagi, ditengah perkembangan Artifisial Intelegence (AI) semua orang menjadi begitu sangat serba bisa. Apapun, ruang digital seolah mampu memberikan apa yangvkita butuhkan. Tapi apakah benar semua itu berhasil menghadirkan kebermanfaatan?

Perkembangan teknologi, ternyata juga bukan tanpa konsekuensi. Karena tak sedikit juga bagaimana teknologi ternyata menjadi celah kriminal, dan disalah gunakan untuk meretas dan mencuri data. Ada yang pandai berbicara tetapi dipakai untuk menyebar fitnah dan kebencian. Bahkan ada yang memiliki pendidikan tinggi namun kehilangan moral dan tanggung jawab sosial.

Dan ditengah kontemplasi itu, saya seolah digiring pada ruang nalar dan pemahaman yang kontruktif bahwasanya, "TIDAK SEMUA ILMU LAYAK DIBANGGAKAN".

Dalam perspektif Islam, ada sebuah ukuran kemuliaan ilmu. Bukan hanya pada luasnya pengetahuan atau tingginya gelar akademik, tetapi sejauh mana ilmu itu mendekatkan seseorang kepada Allah dan memberi manfaat bagi kehidupan manusia.

Rasulullah ﷺ sendiri mengajarkan sebuah doa yang mungkin kita semua tahu, tapi jarang kita amalkan. Beliau mengajarkan sebuah doa “Allahumma inni as’aluka ‘ilman nafi’an,” yang artinya adalah, Ya Allah aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat.

Doa tersebut menunjukkan bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang melahirkan keberkahan, ketenangan, dan pengabdian. Bukan ilmu yang melahirkan kesombongan dan kerusakan.

Baca juga: Lebih dari Sekadar Laga Sepak Bola, Turnamen 100 Tahun Gontor Satukan Alumni Santri Sedunia

Belajar dari sebuah pesantren sejak dahulu, dan sebagai alumni Gontor, saya juga memahami satu hal di pesabtren bahwa, tradisi dan kurikulum pesantren selalu menempatkan ilmu dan adab sebagai dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Sebab ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan manusia cerdas yang kehilangan arah.

"Jangan hanya menjadi orang pintar, tapi jadilah orang yang bermanfaat. Sebab kemuliaan ilmu bukan pada tingginya pengetahuan, melainkan pada keberkahan dan pengabdiannya untuk umat,” tegas KH. Hasan Abdullah Sahal.

Pesan tersebut sangat relevan bagi saya, dan mungkin juga para generasi muda hari ini.

Dunia modern tak hanya membutuhkan orang-orang hebat, tetapi juga manusia yang memiliki hati, adab, dan tanggung jawab moral. Sebab bangsa yang besar tidak dibangun oleh mereka yang sekadar cerdas, melainkan oleh orang-orang yang menggunakan ilmunya untuk kemaslahatan umat.

Setelah menerima pesan tersebut,  saya sampai pada satu kongklusi tentang keilmuan. Bahwa ternyata, sejatinya mencari ilmu bukan hanya tentang mengejar gelar, popularitas, atau pengakuan manusia. Tapi lebih dari itu. Ilmu merupakan sebuah jalan pengabdian.

Baca juga: Pertamina Gandeng Pondok Pesantren Gontor Dorong Penggunaan LPG Tepat Sasaran di Ponorogo

Mencari ilmu yang nafi’ (bermanfaat) atau ilmu yang mampu menerangi hidup, mampu memperbaiki akhlak, kemungkinan akan mampu mengangkat derajat manusia. Dan, ilmu juga akan menjadi amal jariyah hingga akhir hayat. Kelak, bukan seberapa banyak ilmu yang dimiliki yang akan ditanya, tetapi untuk apa ilmu itu digunakan.

Ditulis oleh Ustadz Nafi Unnas.
Merupakan pembimbing umrah di Samira Travel Jawa Timur, dan alumni Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorog.

Saat ini, ia juga aktif sebagai dosen Bahasa Arab di UIN Sunan Ampel Surabaya (UINSA).

Ustadz Nafi Unnas dikenal fokus mengedukasi jamaah tentang pentingnya kesiapan fisik dan spiritual dalam ibadah haji dan umrah, dan rutin menggelar pengajian tentang edukasi Umrah bernama Majelis Ma'an Najah di Surabaya.

Editor : Amal Jaelani

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru