Saat Teh Melampaui Tradisi dan Menjadi Gaya Hidup

Reporter : Ali Masduki
Puluhan mixologist dari berbagai kota berpose usai sesi kompetisi Dilmah Mixology Playoff 2026 di Surabaya. Foto/Ali Masduki

SURABAYA - Revolusi sering lahir dari hal sederhana. Dari cangkir teh yang tenang, perubahan itu kini berdenyut di balik denting es batu dan kilau gelas cocktail. Teh yang selama ini akrab dengan ritus harian, bergeser menjadi medium ekspresi, ruang eksplorasi, sekaligus identitas baru gaya hidup urban.

Transformasi tersebut menemukan momentumnya di Dilmah Mixology Playoff 2026. Selama dua hari mulai 15-16 April 2026, 40 mixologist dari berbagai kota berkumpul, bukan sekadar berkompetisi, melainkan meredefinisi cara orang memandang teh.

Baca juga: Rolls-Royce Cullinan Yachting, SUV Mewah Rasa Yacht

Di Echo Lounge Aloft Hotel Surabaya, aroma daun teh bercampur citrus, rempah, hingga sentuhan floral memenuhi ruang. 

Setiap racikan terasa seperti narasi tentang keberanian, eksperimen, dan keinginan keluar dari batas yang selama ini dianggap baku.

Teh tak lagi berdiri sebagai pelengkap. Ia menjadi pusat perhatian. Di tangan para peracik, teh menjelma mocktail berlapis rasa, cocktail berstruktur kompleks, hingga sajian visual yang hampir menyerupai karya seni. Setiap tegukan menghadirkan sensasi, bukan sekadar rasa.

Vice President Director PT David Roy Indonesia, Eliawati Erly, melihat perubahan itu sebagai sinyal pergeseran yang lebih besar.

“Kami membuka ruang seluas-luasnya bagi pelaku industri dan talenta baru. Keberagaman latar belakang peserta memunculkan energi segar untuk mendefinisikan ulang bagaimana teh dinikmati secara modern,” ujarnya.

Baca juga: Xiaomi Siapkan HyperOS 3, Ambisi Satukan HP, Mobil, dan Rumah di 2026

Keragaman itu terasa nyata. Dari bar hotel mewah hingga kafe independen, dari Surabaya hingga Jakarta, Bandung, Bali, dan Semarang, semua bertemu dalam satu arena. Mereka tidak hanya membawa teknik, tetapi juga perspektif yang berbeda tentang rasa dan pengalaman.

Di balik meja juri, Agung Prabowo dan Jay Gray mengamati setiap detail. Bukan sekadar menilai, keduanya membaca arah masa depan, yaitu bagaimana bahan tradisional bisa berdialog dengan standar global tanpa kehilangan identitas.

Di luar arena, perubahan selera publik ikut mendorong gelombang tersebut. Masyarakat urban kini mencari lebih dari sekadar minuman. 

Mereka mencari pengalaman aroma yang menggoda, tekstur yang mengejutkan, hingga presentasi yang layak diabadikan. Teh, dengan fleksibilitasnya, menjawab kebutuhan itu.

Baca juga: Ekosistem Lenovo Legion Terbaru Rambah Surabaya, Tingkatkan Performa Gaming

Kompetisi ini menjadi lebih dari sekadar ajang adu keterampilan. Ia berfungsi sebagai akselerator, menghubungkan tradisi dengan inovasi, pelaku lama dengan talenta baru, serta pasar lokal dengan tren global.

Para peserta pulang bukan hanya membawa kemungkinan gelar, tetapi juga cara pandang baru. Bahwa komoditas sederhana bisa memiliki nilai tinggi saat diperlakukan dengan kreativitas dan teknik yang tepat.

Dari Surabaya, sebuah pesan mengalir pelan namun pasti. Masa depan minuman tidak selalu datang dari bahan baru. Kadang, ia lahir dari keberanian melihat yang lama dengan cara berbeda. Dan di titik itu, teh tidak lagi sekadar diminum. Ia diciptakan kembali.

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru