Ditengah arus kehidupan modern, ukuran kesuksesan sering kali direduksi menjadi satu hal: kekayaan.
Media sosial dipenuhi dengan simbol kemewahan, gaya hidup serba instan, dan narasi bahwa semakin banyak harta yang dimiliki, semakin tinggi pula derajat seseorang di mata masyarakat. Dalam situasi seperti ini, refleksi keagamaan menjadi penting agar manusia tidak kehilangan arah dalam memaknai kehidupan.
Baca juga: Sepuluh Hari Terakhir Ramadlan, Spirit Lailatul Qadar dan Kebangkitan Ekonomi Syariah
Islam sejak awal telah memberikan panduan yang sangat jelas mengenai orientasi hidup manusia.
Salah satu penjelasan yang sangat mendalam datang dari hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan dalam Sunan At-Tirmidzi tentang niat.
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ جَعْفَرٍ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَوْنِ بْنِ أَبِي جُحَيْفَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ النَّاسُ أَرْبَعَةٌ عَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا قَالَ هَذَا فِي الْحُسْنَى عَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ عَبْدٌ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَذَاكَ فِي الشَّقَاءِ عَبْدٌ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ
Artinya : "Perumpamaan umat ini adalah seperti empat orang:
Pertama, seorang laki-laki yang diberi harta dan ilmu oleh Allah, lalu ia menerapkan ilmunya dalam (mengolah) hartanya, maka ia pun menafkahkan apa yang menjadi hak hartanya.
Kedua, seorang laki-laki yang telah diberi ilmu oleh Allah namun ia tidak diberi harta. Lalu ia berkata: 'Seandainya aku memiliki harta seperti yang telah diberikan kepada orang itu tentu aku akan melakukan seperti yang telah ia lakukan."
Abu Kabsyah Al Anmari berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Maka keduanya memiliki pahala yang sama.
Ketiga, seorang lak-laki yang diberikan harta oleh Allah namun tidak diberi ilmu, sehingga ia membelanjakan harta tersebut kepada sesuatu yang layak.
Dan keempat, seorang laki-laki yang tidak dikaruniai Allah harta dan tidak pula ilmu. Lalu ia berkata: 'Seandainya aku memiliki harta seperti yang telah diberikan kepada orang itu tentu aku akan melakukan seperti yang telah ia lakukan.'"
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Maka keduanya memiliki dosa yang sama."
Dalam hadis tersebut, Rasulullah menggambarkan empat tipe manusia berdasarkan hubungan antara ilmu, harta, dan niat yang mereka miliki.
Hadis ini tidak sekadar berbicara tentang moralitas individual, tetapi juga menyentuh persoalan sosial dan ekonomi yang sangat relevan dengan kehidupan umat Islam saat ini.
Ketika Ilmu dan Harta Bertemu dalam Ketakwaan
Tipe pertama adalah manusia yang dianugerahi dua hal sekaligus: ilmu dan harta. Ia menggunakan hartanya dengan penuh kesadaran spiritual. Hartanya tidak hanya digunakan untuk kepentingan pribadi, tetapi juga untuk menyambung silaturahmi, membantu sesama, serta menunaikan hak Allah yang terdapat di dalamnya.
Dalam pandangan Islam, inilah tipe manusia yang paling beruntung. Kekayaan tidak menjadikannya lupa diri, tetapi justru memperluas manfaat bagi masyarakat.
Ilmu yang dimiliki menjadi kompas moral yang membimbingnya dalam mengelola kekayaan. Ia memahami bahwa dalam setiap harta terdapat tanggung jawab sosial.
Zakat, infak, dan sedekah bukan sekadar kewajiban ritual, tetapi juga mekanisme distribusi kesejahteraan dalam masyarakat.
Ditengah kesenjangan ekonomi yang semakin nyata, sosok seperti ini sangat dibutuhkan. Kekayaan yang dikelola dengan ilmu dan ketakwaan dapat menjadi kekuatan besar untuk menghadirkan keadilan sosial.
Tipe kedua dalam hadis tersebut adalah orang yang memiliki ilmu tetapi tidak memiliki harta. Secara materi ia mungkin terlihat terbatas, tetapi hatinya dipenuhi dengan niat yang tulus.
Ia berkata bahwa jika memiliki harta, ia akan menggunakannya untuk melakukan kebaikan sebagaimana orang-orang saleh. Rasulullah SAW menegaskan bahwa orang seperti ini tetap mendapatkan pahala karena niatnya.
Pesan ini sangat penting untuk dipahami. Dalam Islam, niat memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Niat menjadi fondasi spiritual yang menentukan nilai sebuah amal.
Di tengah realitas sosial yang sering memuja kekayaan, hadis ini memberikan penghiburan sekaligus penguatan moral: kebaikan tidak selalu diukur dari seberapa besar kemampuan materi seseorang.
Seseorang yang memiliki niat tulus untuk berbuat baik tetap memiliki nilai di sisi Allah, bahkan ketika ia belum memiliki kesempatan untuk melakukannya secara nyata.
Baca juga: Ramadhan, Zakat, dan Fondasi Ekonomi Keadilan
Tipe ketiga adalah orang yang memiliki harta tetapi tidak memiliki ilmu. Inilah tipe yang sering kali muncul dalam kehidupan modern.
Ketika kekayaan tidak diimbangi dengan pemahaman nilai moral dan spiritual, harta justru dapat menjadi sumber kerusakan. Orang seperti ini menggunakan hartanya tanpa arah. Ia tidak memperhatikan nilai ketakwaan, tidak menjaga hubungan sosial, dan tidak memahami bahwa dalam hartanya terdapat hak orang lain.
Rasulullah SAW menyebut golongan ini sebagai golongan yang celaka. Bukan karena kekayaan itu sendiri, tetapi karena kekayaan tersebut tidak dikelola dengan kesadaran moral.
Fenomena ini dapat dilihat dalam berbagai bentuk kehidupan sosial saat ini. Kekayaan sering digunakan untuk mempertontonkan kemewahan, memperkuat status sosial, atau bahkan menindas pihak yang lebih lemah.
Tanpa ilmu dan kesadaran spiritual, kekayaan dapat berubah menjadi alat keserakahan.
Tipe terakhir adalah orang yang tidak memiliki harta dan tidak memiliki ilmu. Namun persoalan utama bukan terletak pada keterbatasan tersebut, melainkan pada niatnya.
Rasulullah SAW bersabda, bahwa jika memiliki harta, ia akan menggunakannya untuk keburukan sebagaimana orang yang menyalahgunakan kekayaan. Rasulullah SAW menegaskan bahwa karena niat buruk tersebut, dosanya dapat menyamai orang yang benar-benar melakukan keburukan itu.
Ini menunjukkan bahwa dalam Islam, niat bukan sekadar urusan batin yang tersembunyi. Niat memiliki implikasi moral yang sangat besar.
Orientasi hati seseorang menentukan arah hidupnya. Bahkan sebelum seseorang bertindak, niatnya sudah menggambarkan karakter dan kecenderungan moralnya.
Pelajaran Penting bagi Ekonomi dan Kehidupan Sosial
Hadis ini memberikan pelajaran yang sangat penting bagi kehidupan sosial dan ekonomi umat Islam. Dalam perspektif ekonomi Islam, harta bukanlah tujuan akhir kehidupan.
Harta adalah amanah. Ia adalah instrumen yang dapat digunakan untuk membangun kemaslahatan masyarakat.
Baca juga: Ibnu Muljam dan Pelajaran Nuzulul Qur’an
Namun amanah tersebut hanya dapat dijalankan dengan baik jika manusia memiliki ilmu dan niat yang benar. Ilmu memberikan pemahaman tentang bagaimana harta harus dikelola. Niat memberikan arah moral bagi setiap tindakan.
Ketika ilmu, harta, dan niat berjalan secara harmonis, maka kekayaan tidak hanya memberikan manfaat bagi individu, tetapi juga bagi masyarakat luas.
Sebaliknya, ketika kekayaan terlepas dari nilai moral dan spiritual, ia berpotensi menciptakan ketimpangan sosial dan kerusakan moral.
Pesan hadis ini menjadi refleksi penting di tengah budaya materialisme yang semakin kuat. Banyak orang berlomba-lomba mencari kekayaan, tetapi tidak selalu memikirkan bagaimana kekayaan tersebut digunakan.
Padahal dalam perspektif Islam, keberhasilan hidup tidak hanya diukur dari jumlah harta, tetapi dari keberkahan yang menyertainya.
Keberkahan lahir dari perpaduan antara ilmu yang benar, niat yang tulus, dan penggunaan harta yang bertanggung jawab.
Karena itu, tantangan terbesar umat Islam hari ini bukan sekadar menjadi kaya. Tantangan yang jauh lebih besar adalah memastikan bahwa kekayaan tersebut membawa manfaat bagi sesama.
Jika ilmu, harta, dan niat berjalan seiring, maka kekayaan tidak akan menjadi sumber kesombongan, tetapi menjadi jalan menuju keberkahan.
Pada akhirnya, manusia tidak hanya akan ditanya tentang apa yang dimilikinya, tetapi juga tentang bagaimana ia menggunakan apa yang dimiliki.
Ditulis oleh: Mashudi, M.E.I
Dosen Ekonomi Syariah Fakultas Keislaman UTM
Editor : Amal Jaelani