BANGKALAN – Yayasan Gerakan Dualima Indonesia (G25 Indonesia) kembali meneguhkan komitmennya dalam gerakan sosial.
Dewan Pembina G25 Indonesia, Prof Safi’ memberikan apresiasi terhadap konsistensi organisasi tersebut yang telah bergerak di bidang sosial selama tujuh tahun.
Menurutnya, tidak mudah bagi sebuah organisasi sosial untuk bertahan lama. Ia menyebut, umumnya lembaga sosial menghadapi masa kritis pada tiga tahun pertama sejak berdiri.
“Alhamdulillah G25 tidak hanya mampu melewati masa itu, tetapi terus berkembang, baik dari sisi jumlah relawan, donatur, maupun penerima manfaat,” katanya, Minggu (8/3/2026).
Tokoh Muda Nahdliyin Inspiratif versi Forkom Jurnalis Nahdliyin ini menilai gerakan yang diusung G25 menjadi bagian dari upaya masyarakat sipil untuk membantu pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Terutama di tengah keterbatasan negara dalam menjangkau seluruh kebutuhan sosial.
Rektor Universitas Trunojoyo Madura (UTM) itu menjelaskan, filosofi angka 25 pada nama G25 merujuk pada nilai minimal donasi sebesar Rp25.000.
Nilai tersebut diharapkan menjadi gerakan sederhana namun berkelanjutan untuk menumbuhkan kepedulian sosial.
“Terpenting bukan besar kecilnya jumlah, tetapi keikhlasan dalam berbagi. Kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain sejatinya akan kembali kepada diri kita sendiri,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua Umum G25 Indonesia, Dasuki Rahmad menegaskan bahwa seluruh donasi yang masuk dikelola secara transparan.
Laporan kegiatan dan penggunaan dana dapat diakses publik melalui media sosial maupun situs resmi G25 Indonesia.
Ia menyebutkan, G25 memiliki tiga program prioritas, yaitu pemberdayaan pendidikan, pemberdayaan ekonomi super mikro, serta program sosial kemanusiaan (social charity).
Pada sektor pendidikan, bantuan diberikan secara langsung ke lembaga pendidikan penerima manfaat.
Misalnya pembayaran SPP atau kebutuhan sekolah lainnya dilakukan langsung ke sekolah untuk memastikan bantuan tepat sasaran.
“Kalau ada siswa yang kesulitan membayar SPP atau LKS, kami yang datang ke sekolah dan membayarnya. Jadi bantuan tidak diberikan dalam bentuk uang kepada orang tua, tetapi langsung ke lembaga pendidikan,” jelasnya.
Untuk program pemberdayaan ekonomi, bantuan diberikan kepada masyarakat yang memiliki potensi usaha kecil agar dapat mandiri secara ekonomi.
Dasuki juga memastikan bahwa seluruh donasi yang masuk disalurkan sepenuhnya kepada penerima manfaat.
“Semua donasi yang masuk adalah donasi tulus untuk masyarakat. Tidak sepeser pun digunakan untuk operasional relawan karena kebutuhan relawan ditanggung secara pribadi,” tegasnya.
Melalui kegiatan Spirit Ramadan 2026, G25 Indonesia berharap semakin banyak masyarakat yang terlibat dalam gerakan berbagi, baik sebagai relawan maupun donatur, sehingga manfaatnya dapat menjangkau lebih luas.
Editor : Diday Rosadi