JAKARTA – Anggota DPD RI asal Jawa Timur Senator Lia Istifhama mengapresiasi langkah Presiden Prabowo Subianto yang mengundang para ulama dan pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam untuk berbuka puasa bersama sekaligus berdiskusi di Istana Merdeka, Jakarta, pada Kamis (5/3/2026)
Ning Lia, sapaan akrabnya, menilai bahwa Langkah Kepala Negara menemui tokoh agama dan ormas di tengah dinamika geopolitik dan geoekonomi dunia yang memanas, merupakan langkah humanis, terlebih di bulan Ramadan.
“Sikap Bapak Presiden menunjukkan langkah humanis sekaligus aspiratif. Karena situasi global saat ini, terutama terkait Iran, menjadi atensi dunia, disebabkan generasi muda yang melek digital saat ini, memiliki prinsip humanis yang sangat kuat. Dan simpati kepada negara Iran memang kian kuat pasca serangan yang mengakibatkan tewasnya Ayatollah Ali Khamenei," jelasnya, Sabtu (7/3/2026).
Menurut Lia, ketika seorang Kepala Negara mengajak para tokoh agama berdialog, ini langkah persuasif yang sangat humanis.
Apalagi di tengah bulan suci, pendekatan agama sangat tepat sekali. Terlebih, Indonesia negara mayoritas muslim yang mayoritas bersimpati kepada Iran.
"Bahkan, saya yakin tidak sedikit yang non muslim pun bersimpati kepada Iran karena yang diserang bukan hanya pangkalan militer, tetapi juga sekolah sehingga korban jiwa banyak anak-anak," ujarnya.
Ia pun menambahkan, di tengah situasi global yang sedang tidak baik-baik saja, Langkah Prabowo seperti dejavu langkah presiden Soekarno di tengah masa-masa genting jelang kemerdekaan Indonesia.
Lia mengungkapkan, saat Indonesia akan mendeklarasikan kemerdekaan, Bung Karno rutin berdialog dengan para ulama.
Tujuannya tentu menyatukan pemikiran sehingga saat Indonesia resmi menggaungkan kata ‘Prokalamasi”, semua instrument bangsa sepakat dan menguatkan. Jangan sampai ada sedikit saja ‘suara sumbang’ dari internal bangsa.
“Dengan begitu, saat bangsa secara dalam negeri sudah sangat kuat persatuan, maka konsentrasi sepenuhnya pada dukungan kemerdekaan dari negara lain," terangnya.
“Dan saya yakin, pandangan serta masukan para ulama pasti menjadi pertimbangan yang sangat berarti. Karena saya yakin beliau Pemimpin Aspiratif dan sangat memahami preferensi publik yang sangat humanis serta menolak penyerangan terhadap kedaulatan negara lainnya,” imbuhnya.
Seperti diketahui, pertemuan yang dilakukan Prabowo dengan ulama tersebut, dihadiri 158 pimpinan ormas Islam yang mewakili 86 ormas, ditambah tokoh Islam dan pimpinan pondok pesantren.
Dalam pertemuan itu, Prabowo dan para pimpinan ormas membahas situasi geopolitik dan geoekonomi global, termasuk krisis di Timur Tengah—mulai Gaza-Palestina hingga perkembangan pascaserangan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran.
Termasuk kemungkinan dampaknya bagi Indonesia. Selain itu, turut dibahas kondisi ekonomi dan sosial di dalam negeri.
Editor : Diday Rosadi