Gen Z Geruduk DPRD Jatim, Tolak Pilkada Lewat Dewan & Tuntut Hak Guru

Reporter : Muhammad Iffan Maulana
Mahasiswa Gen Z dari berbagai kampus di Jawa Timur mengepung Gedung DPRD Jatim. Foto: M Iffan Maulana/Ayojatim

SURABAYA – Gelombang keresahan mahasiswa Jawa Timur pecah di depan Gedung DPRD Jatim, Rabu (11/2) siang. Di bawah sengatan matahari Surabaya, ratusan mahasiswa yang dimotori BEM Universitas Airlangga (Unair) memasang badan menuntut keadilan bagi masyarakat yang kian terhimpit kebijakan pemerintah.

Gerakan ini menjadi pembuktian bahwa Generasi Z tidak sekadar vokal di media sosial, namun berani turun ke jalan saat ruang demokrasi dirasa kian sempit. 

Baca juga: Ribuan Santri dan Alumni Pesantren se-Jatim Aksi Protes Tayangan Xpose Uncensored Trans7 di DPRD Jatim

Mereka membawa lima poin tuntutan krusial yang menyentuh langsung urusan perut dan hak politik rakyat.

Koordinator Lapangan BEM Unair, M. Rizqi Virawan, menyatakan bahwa aksi ini merupakan alarm bagi penguasa. Salah satu poin yang paling diwaspadai adalah wacana pemilihan kepala daerah (Pilkada) melalui DPRD.

"Kami tidak ingin hubungan rakyat dan pemimpinnya terputus. Jika kepala daerah dipilih oleh dewan, pengawasan bakal tumpul karena mereka semua berada dalam satu lingkaran kekuasaan," tegas Rizqi di sela-sela aksi.

Selain isu politik, massa menyoroti ketimpangan sosial yang nyata. Mereka menuntut pemerintah segera mengaktifkan kembali 11 juta peserta BPJS Kesehatan yang dinonaktifkan secara sepihak. 

Rizqi juga membandingkan nasib guru honorer yang terabaikan dengan rencana pengangkatan pegawai program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi ASN atau P3K.

Baca juga: Makan Bergizi Gratis: Antara Konten dan Konteks

"Sangat tidak adil jika guru honorer yang sudah mengabdi bertahun-tahun tetap terabaikan, sementara ada rencana rekrutmen baru untuk program yang bahkan belum stabil," tambahnya.

Kritik tajam juga mengarah pada isu lingkungan. Mahasiswa menilai pemerintah sengaja menciptakan hiruk-pikuk politik untuk menutupi laju deforestasi yang kian parah. 

Hutan Indonesia terus menyusut, namun isu ini seolah tenggelam oleh drama kekuasaan di Jakarta.

Senada dengan Rizqi, Muhammad Satria dari FISIP Unair menyayangkan sikap para wakil rakyat yang enggan menemui massa hingga sore hari. Padahal, kehadiran mereka sangat dinanti untuk membuka ruang dialog yang macet.

Baca juga: Ketua Fraksi PKS DPRD Jatim Tekankan Pentingnya Literasi Digital Lewat Media Massa di Tengah Fenomena Sosial Media

"Kami datang dengan kesadaran penuh dan tertib. Kami hanya ingin tidak ada sekat antara mahasiswa, masyarakat, dan mereka yang duduk di dalam gedung itu," ujar Satria.

Aksi massa ini melibatkan aliansi mahasiswa dari Surabaya, Malang, Lamongan, hingga Madura. Meski matahari membakar aspal, barisan mahasiswa tetap solid. 

Bagi mereka, bertahan di jalan adalah satu-satunya cara memastikan api kritik tetap menyala di tengah pengabaian suara rakyat.

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru