Cerita Pantang Menyerah Pemuda Penggerak BUMDes, Sempat Rugi Puluhan Juta Kini Raup Omzet Ratusan Juta

Reporter : AM Lukman J
Andri Tri Irawan (kanan) penggagas Lumbung Stroberi yang menjadi salah satu andalan BumDes Pandanrejo, Batu, Jawa Timur. Foto: Agung for Ayojatim

BATU - Desa Pandanrejo di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Jawa Timur, tak jauh berbeda dari desa-desa lain di Indonesia. Berada di kawasan yang sejuk dan subur, desa ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata favorit di wilayah Malang Raya.

Di balik pesonanya, Pandanrejo menyimpan potensi besar sebagai sentra produksi stroberi.

Baca juga: BRI BO Manukan Apresiasi Desa Hendrosari dalam Program Desa BRILiaN 2025 di Edu Wisata Lontarsewu

Tercatat, kawasan budidaya stroberi di desa ini mencapai sekitar 22 hektare dan mampu menghasilkan ratusan ton buah stroberi segar setiap tahunnya. Potensi inilah yang kemudian dikembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Raharjo melalui unit usaha bertajuk Lumbung Stroberi.

Budidaya stroberi di Pandanrejo sendiri sudah berlangsung sejak era 1990-an. Beragam varietas stroberi tumbuh subur di desa ini, mulai dari Sweet Charlie, California, Holybrite, Oso Grande, hingga Rosalinda, masing-masing dengan karakter rasa dan bentuk yang berbeda.

Lumbung Stroberi resmi berdiri pada 2018. Penggagasnya adalah pemuda asli Pandanrejo, Andri Tri Irawan. Ia mengaku tergerak membangun usaha ini karena prihatin melihat harga panen stroberi petani yang kerap dimainkan oleh tengkulak.

“Di tahun-tahun awal, usaha ini belum langsung menghasilkan keuntungan. Bahkan pada 2019, saat pandemi Covid-19 melanda, kami justru mengalami kerugian hingga Rp97 juta,” ungkap Andri.

Namun kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia justru jeli melihat peluang di tengah pandemi, ketika masyarakat mulai mencari asupan sehat untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Stroberi pun menjadi salah satu buah yang banyak diburu.

Baca juga: Melalui PDB, Unitomo Angkat Potensi Lokal: Dari Es Krim Jambu Biji hingga Batik Tanjungbumi

Strategi pemasaran kemudian difokuskan melalui media sosial. Langkah ini terbukti efektif. Perlahan tapi pasti, penjualan meningkat drastis hingga mampu mencatat omzet sekitar Rp200 juta per bulan.

“Dari situ kami akhirnya bisa melunasi utang Rp97 juta kepada mitra petani stroberi,” tambah Andri, yang akrab disapa Abrek, selaku Koordinator Pengelola Lumbung Stroberi.

Tak luput berbagai penghargaan mengalir deras atas capaian dari pemuda pemuda ini dalam meningkatkan PAD Desa Pandanrejo, piagam serta sertifikat penghargaan mulai dari tingkat Nasional hingga Kotamadya sudah berhasil mereka dapatkan.

Kini, Lumbung Stroberi tak hanya menjadi pusat pemasaran hasil panen, tetapi juga berkembang menjadi destinasi wisata unggulan Desa Pandanrejo. Pengunjung bisa memetik stroberi langsung di kebun, menikmati buah segar, hingga membawanya pulang sebagai oleh-oleh khas desa.

Baca juga: KKN Unitomo dan BUMDes Jatiurip Kolaborasi Kembangkan Budidaya Lele Berkelanjutan

Tak berhenti di situ, BUMDes Raharjo juga mengembangkan konsep wisata berbasis alam dengan menghadirkan penginapan glamping. Dengan tarif sekitar Rp700 ribu hingga Rp800 ribu per malam, pengunjung sudah bisa menikmati suasana alam dengan latar pemandangan Gunung Panderman.

Hingga kini, Abrek bersama tim terus menjaga kemitraan dengan para petani stroberi setempat. Tujuannya sederhana, agar keberadaan BUMDes benar-benar memberi manfaat dan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat desa.

BUMDes Raharjo pun dinilai berhasil membaca potensi, kebutuhan, dan keunggulan lokal. Melalui brand Lumbung Stroberi, Desa Pandanrejo kini semakin dikenal sebagai desa wisata berbasis pertanian yang mampu tumbuh dari kekuatan warganya sendiri.

Editor : Amal Jaelani

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru