Anggota Komisi III DPR Slamet Ariyadi Menembus Batas Dapil: Peduli Sesama, Jenguk Warga Sakit di Kota Malang

Reporter : Diday Rosadi
Anggota DPR RI, Slamet Ariyadi menjenguk Ibunda Abdul Aziz, Ibu Murahya. foto: istimewa.

Oleh: Abd. Aziz
Founder dan Senior Managing Partner Firma Hukum PROGRESIF LAW Jakarta, Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), dan Ketua Umum Kaukus Intelektual Nahdlatul Ulama (KALAM NU)

PRESIDEN Amerika Serikat ke-35, John F. Kennedy (1917–1963), seorang tokoh yang dikenal dengan gagasan tentang pengabdian kepada masyarakat berujar: "Dapil boleh membatasi wilayah pemilihan, tetapi tidak boleh membatasi kepedulian. Ketika rakyat sakit, seorang wakil rakyat hadir bukan karena dapil, melainkan kemanusiaan.”

Sejalan dengan gagasan John F. Kennedy di atas, pasca memenuhi undangan dari Yayasan Yasmine Indonesia Maju yang dihadiri M. Zainuddin (Rektor UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, 2021-2025) dan Muhammad Bisri (Rektor Universitas Brawijaya Malang, 2014-2018), tokoh muda yang namanya bersinar karena sepak terjangnya sebagai anggota DPR, Slamet Ariyadi datang berkunjung ke Gubuk Progresif yang terletak di Kota Malang, Jawa Timur pekan lalu. 

Sebuah gubuk kecil, yang oleh penghuninya, Abd. Aziz, diikhtiarkan sebagai kawah chandradimuka ilmu pengetahuan yang menabur inspirasi.

Kedatangan anggota DPR yang membidangi urusan hukum, HAM, dan keamanan itu, diterima sang tuan rumah di teras pustaka progresif: ruang diskusi para aktivis pergerakan lintas generasi. 

Aziz yang populer sebagai pengacara dengan ketelitian dan akurasi tinggi dalam menyusun konstruksi hukum pembelaan yang terencana, terukur dan terprediksi serta kerap memenangkan perkara itu, tinggal dengan istri tercintanya: Lika Rahmawati Aziz dan ketiga putranya, yaitu Dzikri Fakhrillah Aziz (15), Zakiya Salima Aziz (12) dan Nabila Khairiyah Aziz (8). 

Kedatangan Slamet yang didampingi beberapa tenaga ahlinya bukan tanpa alasan. Mengingat, Aziz adalah bagian penting dari  advokasi suatu perkara di Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT TUN) Jakarta, yang "menjerembapkan' Menteri Hukum sehingga kalah dalam berperkara pada 18 Februari 2026 lalu.

Selain silaturrahmi, kedatangan Mas Slamet—biasa disapa, juga menjenguk Ibunda Aziz, Ibu Murahya yang terbaring sakit, dan hari-harinya dirawat langsung oleh Aziz sebagai putra sulungnya.

Slamet menyatakan rasa salutnya kepada Aziz yang biasa menggendong, memandikan, menyuapi seorang Ibu yang telah melahirkannya. 

Saat menemui Ibu yang sakit, walaupun Slamet Ariyadi bertugas sebagai anggota Komisi III DPR, dan kini memimpin Barisan Muda Partai Amanat Nasional (BM PAN), tak ragu mencium tangan perempuan berusia 68 tahun itu.

Sosok Ibu hebat yang telah membesarkan dan mendidik Aziz sejak umur 4 hari seorang diri itu, tampak senang dengan kedatangan seorang wakil rakyat, yang juga Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) tersebut.

Setelah duduk disamping Kanjeng Ummi—sebutan Aziz pada Ibu kandungnya—wakil rakyat asal Sampang-Madura ini langsung memanjatkan doa untuk kesembuhannya.

"Ummi (Ibu), semoga lekas sembuh nggih," seraya mengangkat tangan dan memohon kesembuhan pada Allah tanpa kekambuhan di kemudian hari.

"Ummi telah berhasil mendidik anak sulung yang banyak memberikan kemanfaatan untuk masyarakat luas di bidang hukum," ungkap Slamet pelan.

Alumni Universitas Trunojoyo Madura (UTM) dan Universitas Nasional (UNAS) Jakarta ini, mengajak Ibunya Aziz berbicara.

Menyemangati untuk tak lelah melawan sakit yang menderanya. Meyakinkan bahwa kesembuhan itu akan datang pada waktu yang tepat. Allah yang memberi penyakit, Allah pula yang mendatangkan kesembuhan dengan berbagai keajaiban.

Selama ini, Slamet Ariyadi tersohor sebagai anggota DPR yang peduli pada warga-masyarakat di wilayah pulau Madura, daerah pemilihan Jatim XI.

Ketika mendengar ada warga yang membutuhkan kehadirannya, tanpa berpikir panjang, Slamet langsung turun ke lapangan. Bahkan, terhadap warga yang berada di luar Dapil XI sekalipun, Slamet memiliki empati yang tak diragukan. Salah satunya, terhadap Ibunda Aziz yang tinggal di Kota Malang. 

Karenanya, dari bibir Ibunda Aziz, terucap doa untuk Slamet Ariyadi. "Semoga lancar dalam melaksanakan tugas dan kewajiban sebagai wakil rakyat, ya Nak Slamet," katanya pada Slamet.

"Terima kasih atas doa Ummi. Panjenengan istirahat nggih. Insya Allah segera sembuh," timpal Slamet saat izin kembali ke teras: berbincang dengan Aziz dan keluarganya.

Perbincangan seputar masa depan perkumpulan alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) yang dipimpin bersama Sudarto, mulai dibincangkan dengan Aziz, yang notabene merupakan salah satu Ketua PB IKA PMII dengan Majelis Pertimbangan yang dikomando oleh Akhmad Muqowam. 

Diskusi pun berlangsung gayeng dan menghabiskan waktu sekitar seratus dua menit. Sambil menikmati Tani Madjoe, jamu bakar yang khas dengan 12 rempah Nusantara, gagasan besar tentang PB IKA PMII yang berkemajuan, mengalir begitu saja.

Maklum, para alumni PMII tersebar di seluruh Kota dan Kabupaten serta Provinsi di seluruh tanah air. Artinya, bagaimana memaksimalkan potensi besar para alumni karena tak sedikit yang terkualifikasi seorang ulama, dan seorang magister, doktor, bahkan profesor yang tergabung di dalamnya. 

Bagi Slamet, PB IKA PMII merupakan medan perjuangan yang membutuhkan visi dan misi strategis agar laju perkumpulan alumni melesat dengan kontribusi yang cemerlang untuk alumni, masyarakat, bangsa dan negara.

Di bawah kepemimpinan Slamet diharapkan mampu menjadi penyemai gagasan alumni dalam berbagai aspek. Mulai transformasi organisasi, penguatan jaringan, hingga gerakan sosial yang berdampak nyata bagi masyarakat luas.

Tak terasa, di sela diskusi yang serius dan sesekali mengundang gelak tawa itu, matahari mulai beranjak ke peraduannya.

Akhirnya, Slamet menutup diskusi dengan kalimat sederhana.

"Bang Aziz, terima kasih sudah diterima dengan baik di sini. Kami senang, jamuan malam (dinner) yang disajikan Mbak Lika, enak. Jujur, ingin berlama-lama tetapi saya telah dinanti agenda berikutnya," tandas Slamet diiringi dengan anggukan kepala para Staf yang mengiringi. 

"Baik, Mas Slamet. Kami juga berterima kasih, telah berkenan mampir ke gubuk progresif. Menjenguk dan mendoakan Kanjeng Ummi yang sakit.

Terlebih, berbincang soal ikhtiar seputar progresivitas PB IKA PMII ke depan. Sehat dan sukses selalu dalam menjalankan kewajiban sebagai wakil rakyat. Semoga maksimal dalam fungsi legislasi, anggaran, dan pengawasan," harap Aziz pada pria kelahiran 30 September 1990 ini.

"Jadilah wakil rakyat yang merakyat. Dengan demikian, akan dicintai oleh rakyat, yang kepercayaannya akan tersemat terus. Maafkan atas khilaf yang terselip di sana-sini," tutup Aziz singkat sebelum Slamet pamit dan meninggalkan Gubuk Progresif.

Editor : Diday Rosadi

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru