WaGub Emil Dardak Soroti Inflasi dan Biaya Energi, UOB Ajak Nasabah Menata Strategi Investasi di Tengah Ketidakpastian

Reporter : AM Lukman J
Wagub Emil Dardak saat forum Privilege Conversation Mid-Year Market Outlook 2026 yang digelar UOB Privilege Banking di Hotel Sheraton Surabaya, Senin (14/9/2026). Foto: Deni/Ayojatim

SURABAYA, AYOJATIM — Di tengah gejolak ekonomi global yang belum sepenuhnya mereda, Jawa Timur masih memperlihatkan daya tahan yang kuat. Pertumbuhan ekonomi tetap bergerak di atas rata-rata nasional, aktivitas industri berjalan dinamis, dan konsumsi masyarakat terjaga.

Namun, di balik optimisme itu, terdapat sejumlah tantangan yang mulai mendapat perhatian, mulai dari tekanan inflasi hingga tingginya ketergantungan sektor manufaktur terhadap biaya energi.

Baca juga: UOB Indonesia Resmikan KC Bukit Darmo Surabaya, Perkuat Layanan Perbankan di Pusat Pertumbuhan Ekonomi Jawa Timur

Gambaran tersebut mengemuka dalam Privilege Conversation Mid-Year Market Outlook 2026 yang digelar UOB Privilege Banking di Grand Ballroom Sheraton Surabaya Hotel & Towers, Senin (14/9/2026).

Forum bertema Beyond Uncertainty: Capturing Opportunities in The New Economic Cycle itu mempertemukan regulator, pelaku industri keuangan, dan nasabah prioritas untuk membaca arah ekonomi sekaligus menyusun strategi menghadapi perubahan pasar.

Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyampaikan, fondasi ekonomi Jawa Timur masih cukup solid. Pada kuartal II 2026, ekonomi provinsi ini tumbuh 5,72 persen secara tahunan (year on year/yoy), sementara secara kumulatif sepanjang Januari–Juni mencapai 5,84 persen.

Dengan kontribusi mendekati 15 persen terhadap perekonomian nasional, Jawa Timur menjadi salah satu mesin pertumbuhan utama Indonesia. Nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) provinsi ini bahkan mencapai sekitar Rp930 triliun dalam satu triwulan.

"Struktur ekonomi Jawa Timur ditopang oleh industri pengolahan dan perdagangan. Manufaktur sendiri sangat sensitif terhadap biaya, terutama bahan bakar minyak primer dan gas," ujar Emil.

Pernyataan tersebut menggambarkan besarnya peran sektor manufaktur yang menyumbang 31,11 persen terhadap ekonomi Jawa Timur, disusul sektor perdagangan sebesar 18,22 persen. Ketika harga energi bergerak naik, dampaknya tidak hanya dirasakan pelaku industri, tetapi juga dapat merembet ke rantai pasok dan memicu tekanan inflasi.

Data Agustus 2026 menunjukkan inflasi Jawa Timur tercatat 0,34 persen secara bulanan (month to month/mtm), lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional yang berada di level 0,21 persen. Secara tahunan, inflasi Jawa Timur mencapai 3,32 persen.

Menurut Emil, inflasi tidak selalu lahir dari tingginya permintaan atau kondisi ekonomi yang terlalu panas. Hambatan pasokan dan gangguan distribusi juga dapat menjadi pemicu kenaikan harga.

"Kalau solusi terhadap inflasi hanya menaikkan suku bunga, itu bisa menghukum perekonomian dua kali. Jangan-jangan bukan suku bunga yang menjadi persoalan, tetapi ada faktor lain yang menyebabkan inflasi," katanya.

Dalam konteks itu, kepastian kebijakan energi menjadi faktor penting. Emil menyebut pemerintah telah memberikan sinyal bahwa harga bahan bakar minyak (BBM) akan tetap terjaga hingga akhir tahun.

"Tentu sudah ada assurance dari pemerintah, sampai akhir tahun harga BBM tidak akan naik," ujarnya.

Bagi Jawa Timur yang ditopang sektor industri, stabilitas harga energi dipandang sebagai instrumen penting untuk menjaga biaya produksi, menahan laju inflasi, sekaligus mempertahankan daya saing ekonomi daerah.

Di sisi lain, dinamika ekonomi dan pasar keuangan juga mendorong perubahan perilaku investor. Bagi industri perbankan, layanan investasi kini tidak lagi sekadar menawarkan produk, melainkan memberikan pendampingan yang sesuai dengan kebutuhan setiap individu.

Head of Consumer Banking UOB Indonesia Herman Soesetyo mengatakan, pendekatan client centric menjadi strategi utama dalam melayani nasabah segmen privilege.

"Tahun ini secara khusus kami menerapkan segmentasi. Kami mengembalikan fokus kepada nasabah, terutama nasabah privilege, dengan melihat kebutuhan mereka dan menyesuaikan produk maupun layanan yang tersedia," kata Herman.

Pendekatan tersebut diwujudkan melalui keberadaan client advisor sebagai titik kontak utama yang mendampingi nasabah dalam berbagai kebutuhan, mulai dari konsultasi investasi, layanan perbankan, hingga administrasi keuangan.

Hal senada disampaikan Head of Deposit & Wealth Management UOB Indonesia Emillya Soesanto. Menurutnya, strategi investasi tidak dapat disamaratakan karena setiap nasabah memiliki tujuan finansial dan toleransi risiko yang berbeda.

"Yang kami kedepankan adalah client centric. Tidak melulu berbicara tentang produk investasi, tetapi melihat tujuan finansial, tahapan kehidupan dan risiko nasabah. Setelah itu baru kami memberikan advice yang sesuai," ujar Emillya.

Di tengah pasar yang bergerak cepat, edukasi dan pembaruan informasi dinilai menjadi kunci. UOB mencatat lebih dari separuh nasabah privilege telah memanfaatkan kanal digital untuk transaksi dan pengelolaan investasi.

Bagi investor, pesan yang mengemuka dari forum tersebut cukup jelas: di era ketidakpastian, keputusan finansial tidak lagi cukup mengandalkan momentum pasar semata. Pemahaman terhadap kondisi ekonomi, disiplin mengelola risiko, dan strategi yang disesuaikan dengan tujuan jangka panjang menjadi fondasi penting untuk menjaga pertumbuhan aset di masa mendatang.

Editor : Amal Jaelani

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru