Oleh: Ulul Albab
Mantan Rektor Unitomo (2007-2013)
HARI ini kami civitas akademika UNITOMO memperingati dies natalis ke-45. Empat puluh lima tahun. Bukan usia yang pendek. Di usia itu, manusia biasanya mulai berfikir: "Apa yang sudah saya wariskan?". Pertanyaan yang sama seharusnya juga diajukan oleh setiap perguruan tinggi. Apakah kampus masih mempunyai alasan untuk terus hidup? Terutama kampus-kampus Perguruan Tinggi Swasta (PTS).
Baca juga: Dari Gagasan Menjadi Lembaga, Saat Cita-Cita Menemukan Rumahnya
Sebab sesungguhnya... Kematian sebuah perguruan tinggi tidak dimulai ketika bangunannya kosong. Bukan ketika jumlah mahasiswa menurun. Bukan pula ketika laporan keuangannya merah. Tetapi proses kematian itu bisa saja terjadi sejak lama. Yaitu ketika kampus kehilangan keberanian untuk berbeda.
Hari-hari ini hampir semua perguruan tinggi swasta menghadapi tekanan yang sama. Jumlah lulusan SMA semakin sedikit. Perguruan tinggi negeri semakin agresif membuka berbagai jalur penerimaan. Program studi baru bermunculan. Kuliah daring berkembang. Micro credential bermunculan. Platform digital mulai mengambil sebagian fungsi kampus.
Kompetisi tidak lagi antarkampus. Tetapi melawan seluruh ekosistem pembelajaran global. Akibatnya? Banyak kampus memilih jalan paling mudah. Meniru. Kalau kampus sebelah membuka program A, ikut membuka. Kalau kampus lain membangun gedung baru, ikut membangun. Kalau kampus lain memberi diskon UKT, ikut memberi diskon lebih besar.
Semua mengejar hal yang sama. Semua terlihat sama. Padahal... Kalau semua menjadi sama, mengapa masyarakat harus memilih kita? Persoalan perguruan tinggi swasta sebenarnya bukan semata-mata jumlah mahasiswa.
Persoalannya adalah identitas. Apa sebenarnya yang membuat sebuah kampus layak dipilih? Apakah karena gedungnya? Laboratoriumnya? Akreditasinya? Atau karena diskon biaya kuliahnya? Saya kira bukan.
Mahasiswa memilih masa depan. Orang tua membeli harapan. Industri mencari talenta. Bangsa membutuhkan pusat lahirnya gagasan. Kalau semuanya hanya menjual ijazah... Maka cepat atau lambat semua akan kalah.
Di sisi lain muncul persoalan yang tidak kalah serius. Dosen. Saya sangat memahami. Biaya hidup naik. Tuntutan profesional semakin tinggi. Publikasi internasional. Penelitian. Pengabdian masyarakat. Akreditasi. Sertifikasi. Administrasi digital. Target kinerja. Beban bertambah. Tetapi pendapatan banyak yang berjalan di tempat. Maka tuntutan kenaikan gaji menjadi sesuatu yang wajar. Bahkan harus didengar.
Namun persoalannya tidak sesederhana itu. Perguruan tinggi swasta hidup dari mahasiswa. Mahasiswa berkurang. Pendapatan turun. Sementara biaya operasional naik. Gaji dosen harus meningkat. Investasi teknologi harus dilakukan. Gedung harus dirawat. Akreditasi membutuhkan biaya. Digitalisasi membutuhkan investasi. Semua menekan dari berbagai arah. Inilah paradoks yang sedang dihadapi hampir seluruh perguruan tinggi swasta di Indonesia.
Menurut saya, jalan keluarnya bukan sekedar mencari mahasiswa lebih banyak. Bukan pula sekedar menaikkan uang kuliah. Yang harus diubah justru cara berpikir.
Kampus tidak boleh lagi melihat dirinya hanya sebagai penyelenggara pendidikan. Universitas harus berubah menjadi pencipta nilai. Value creator. Bukan sekadar knowledge provider. Mahasiswa bukan lagi pelanggan. Mereka adalah mitra pembelajaran. Industri bukan hanya tempat magang. Tetapi co-creator inovasi.
Baca juga: Musyker MWCNU Candi Tetapkan Strategi Lima Tahun Fokus Ekonomi dan Pendidikan
Alumni bukan sekedar kebanggaan. Melainkan jaringan intelektual. Pemerintah bukan sekedar regulator. Tetapi strategic partner. Perubahan paradigma inilah yang akan menentukan siapa yang bertahan.
Saya sering mengatakan bahwa masa depan universitas tidak lagi ditentukan oleh besarnya kampus. Tetapi oleh besarnya pengaruh. Influence. Bukan size. Universitas masa depan bukan yang memiliki gedung paling tinggi. Tetapi yang paling dipercaya. Yang paling relevan. Yang paling mampu menyelesaikan persoalan masyarakat.
Di era kecerdasan buatan, pengetahuan menjadi murah. Yang mahal justru kebijaksanaan. Artificial Intelligence bisa menjawab hampir semua pertanyaan. Tetapi AI tidak mampu menggantikan kebijaksanaan manusia. Di sinilah universitas memiliki ruang yang tidak tergantikan. Universitas harus menjadi tempat lahirnya wisdom. Bukan sekedar knowledge.
Karena itu saya percaya, perguruan tinggi swasta tidak perlu berlomba menjadi "PTN kecil". Mereka justru harus menjadi dirinya sendiri. Berani mengambil ceruk. Berani menjadi spesialis. Berani membangun karakter. Berani menghadirkan pengalaman belajar yang tidak bisa digantikan mesin. Berani menjadi pusat inovasi masyarakat. Berani menjadi rumah lahirnya pemimpin. Berani berbeda.
Sebab sejarah selalu ditulis oleh mereka yang menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki orang lain.
Hari ini UNITOMO memasuki usia 45 tahun. Angka itu menarik. Empat puluh lima mengingatkan kita pada 1945. Tahun lahirnya Republik Indonesia. Empat puluh lima juga menjadi jembatan menuju Indonesia Emas 2045. Seolah-olah sejarah sedang memberi pesan. Bahwa setiap generasi memiliki tugas zamannya sendiri. Generasi pendiri memperjuangkan kemerdekaan. Generasi berikutnya membangun bangsa.
Baca juga: Menanam Benih: Ketika Sebuah Gagasan Menjadi Universitas
Lalu, apa tugas perguruan tinggi hari ini? Menurut saya, tugasnya bukan sekedar mencetak sarjana. Tetapi membangun peradaban. Bukan sekedar menghasilkan lulusan. Tetapi melahirkan manusia yang mampu memimpin perubahan.
Itulah sebabnya saya menawarkan sebuah gagasan yang selama beberapa bulan terakhir saya tuliskan dalam buku UNITOMO 2045. Bahwa universitas masa depan tidak cukup menjadi Teaching University, Research University, ataupun Entrepreneurial University.
Universitas harus melangkah lebih jauh. Menjadi Universitas Kebijaksanaan (Wisdom University). Sebuah universitas yang mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, integritas, kemanusiaan, keberlanjutan, dan nilai-nilai moral dalam setiap proses pembelajaran, penelitian, maupun pengabdian kepada masyarakat.
"Perguruan tinggi tidak akan mati karena kekurangan mahasiswa. Tetapi Perguruan Tinggi akan mati ketika kehilangan jati dirinya. Sebaliknya, kampus yang memiliki identitas, keberanian, dan kebijaksanaan akan selalu menemukan jalan untuk tetap hidup, bahkan ketika zaman terus berubah."
Editor : Alim Perdana