KEDIRI, AYOJATIM.COM - Bayam merah yang selama ini hanya dipanen untuk pelengkap menu dapur kini memiliki prospek yang jauh lebih besar. Melalui hasil riset yang dikenalkan kepada masyarakat di Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, tanaman tersebut mulai diarahkan menjadi produk herbal antianemia sekaligus peluang usaha yang dapat menambah penghasilan keluarga.
Gagasan itu diperkenalkan dalam kegiatan diseminasi hasil penelitian Penguatan Ekonomi Berbasis Produk Unggulan Bayam Merah sebagai Herbal Antianemia di Balai Desa Papar, Jumat (27/6/2026). Kegiatan diseminasi ini dibantu oleh 6 orang mahasiswa S1 dan 1 orang mahasiswa S3 Fakultas Farmasi Unair, serta 2 dosen Farmasi dari IIK Bhakti Wiyata Kediri.
Program tersebut menjadi bagian dari hilirisasi penelitian skema Kerja Sama Penelitian Tahun 2025 Nomor 5395/B/UN3.LPPM/PT.01.03/2025. Tujuannya sederhana, yakni membawa hasil riset keluar dari ruang laboratorium agar bisa dimanfaatkan langsung oleh masyarakat.
Peserta yang mengikuti kegiatan berasal dari berbagai unsur, mulai pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kader PKK, tenaga kesehatan, pengelola BUMDes, hingga warga yang tertarik mengembangkan tanaman obat keluarga dan produk herbal.
Ketua Tim Penelitian, Prof. Dr. apt. Wiwied Ekasari, M.Si., menjelaskan bayam merah dipilih karena mudah ditanam dan kaya kandungan gizi, seperti zat besi, vitamin, mineral, serta antioksidan yang berpotensi membantu mencegah anemia.
"Sejumlah penelitian menunjukkan bayam merah mampu meningkatkan kadar hemoglobin dan jumlah sel darah merah. Tanaman ini memiliki peluang besar menjadi komoditas unggulan karena mudah dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomi ketika diolah menjadi produk siap jual," kata Wiwied.
Baca juga: Mobil Listrik jadi Peluang Bisnis, Dosen Ubaya Jelaskan Peluang Supply Chain Indonesia
Selama kegiatan, peserta tidak hanya mendapat paparan hasil penelitian. Dr. Neny Purwitasari, S Farm. MSc, memberikan edukasi mengenai pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) agar masyarakat semakin mandiri menjaga kesehatan.
Sementara itu, Dr. apt. Samirah, S.Si., Sp.FRS memaparkan manfaat bayam merah sebagai pangan fungsional yang dapat membantu mencegah anemia, terutama bagi remaja putri, ibu hamil, dan kelompok rentan. Konsumsi pangan bergizi juga dinilai dapat mendukung upaya menekan angka stunting.
Tim peneliti turut membekali peserta dengan teknik budidaya bayam merah, mulai dari memilih benih, merawat tanaman, hingga meningkatkan produktivitas panen. Tidak berhenti di situ, warga juga diperkenalkan berbagai produk olahan bernilai jual, seperti teh herbal, serbuk instan, pangan fungsional, hingga bahan baku produk kesehatan.
Baca juga: Dorong Kecakapan Berbisnis, ITS Gelar Pameran Inovasi Bisnis Statistik
Antusiasme peserta terlihat saat sesi diskusi berlangsung. Beragam pertanyaan muncul, mulai dari teknik budidaya, pengolahan hasil panen, hingga strategi memasarkan produk. Banyak warga mengaku baru mengetahui bahwa bayam merah memiliki potensi menjadi bahan baku industri herbal.
Melalui pendampingan tersebut, tim peneliti berharap masyarakat mampu mengembangkan usaha berbasis bayam merah secara menyeluruh, mulai dari budidaya, pengolahan, hingga pemasaran. Dengan begitu, tanaman yang selama ini tumbuh di pekarangan berpeluang menjadi produk unggulan desa sekaligus sumber pendapatan baru bagi masyarakat.
Hasil evaluasi setelah kegiatan menunjukkan pemahaman peserta meningkat, baik mengenai manfaat bayam merah untuk membantu mencegah anemia maupun peluang bisnis yang bisa dikembangkan. Harapannya, inovasi berbasis tanaman lokal mampu memberi dampak nyata, tidak hanya bagi kesehatan warga tetapi juga bagi pertumbuhan ekonomi desa.
Editor : Alim Perdana