Serial AI & Peradaban Islam (Episode 3)

Bagaimanapun Sanad Tetap Diperlukan Meski di Era AI, Kini Algoritma Siap Menggantikan Mata Rantai Keilmuan

Reporter : Ulul Albab
AI tidak menjadi pengganti tradisi keilmuan Islam, tetapi justru menjadi pintu yang mengantarkan kita untuk belajar lebih mendalam. Foto ilustrasi/Gemini

Oleh: Ulul Albab
Ketua ICMI Jawa Timur

KETIKA seseorang bertanya kepada Artificial Intelligence tentang hukum zakat, tata cara shalat, atau makna sebuah ayat Al-Qur'an, jawaban biasanya muncul hanya dalam hitungan detik. Kalimatnya tersusun rapi. Argumentasinya tampak logis. Bahkan tidak jarang disertai kutipan ayat, hadis, maupun pendapat para ulama.

Baca juga: Bolehkah Kita Bertanya Agama kepada Artificial Intelligence? 

Bagi banyak orang, pengalaman itu terasa mengagumkan. Pengetahuan seolah menjadi begitu dekat dan mudah diakses. Pertanyaanya adalah: dari mana AI memperoleh pengetahuan yang disampaikannya? Pertanyaan ini penting karena menyentuh salah satu fondasi terpenting dalam tradisi intelektual Islam. Yaitu “Sanad”.

Sejak masa awal Islam, ilmu tidak pernah dipahami sebagai kumpulan informasi yang berpindah begitu saja dari satu tempat ke tempat lain. Ilmu selalu hadir melalui proses transmisi yang dapat ditelusuri. Seorang murid belajar kepada seorang guru. 

Guru tersebut belajar kepada gurunya. Mata rantai itu terus bersambung hingga kepada para imam, para sahabat, dan akhirnya kepada Rasulullah SAW. Rangkaian inilah yang dikenal sebagai “sanad.”

Dalam tradisi hadis, sanad bahkan disebut sebagai bagian dari agama. Para ulama klasik memahami bahwa kebenaran sebuah riwayat tidak hanya ditentukan oleh isi pesannya (matan), tetapi juga oleh kredibilitas orang-orang yang membawanya. Karena itu lahirlah disiplin ilmu yang sangat maju untuk menilai kejujuran, ketelitian, kapasitas intelektual, dan integritas para perawi.

Tradisi sanad sesungguhnya mengajarkan prinsip yang sangat penting: yaitu ilmu harus selalu memiliki jejak yang dapat dipertanggungjawabkan. Di sinilah kita mulai melihat perbedaan mendasar dengan cara kerja Artificial Intelligence.

AI juga belajar dari "guru". Namun guru-gurunya bukan individu yang dikenal, tetapi miliaran dokumen digital yang berasal dari berbagai sumber. Di dalamnya terdapat karya ilmiah, buku, artikel, ensiklopedia, berita, forum diskusi, bahkan percakapan yang kualitasnya sangat beragam. Semua itu diproses menjadi pola-pola statistik sehingga AI mampu menghasilkan jawaban yang tampak runtut.

Masalahnya, ketika AI memberikan sebuah penjelasan, kita sering kali tidak mengetahui secara pasti dari sumber mana pengetahuan itu berasal. Kita menerima kesimpulannya, tetapi tidak selalu melihat jejak intelektual yang membentuk kesimpulan tersebut.

Dalam ilmu komputer, pendekatan seperti ini sangat efektif untuk menghasilkan respons yang cepat. Namun dalam epistemologi Islam, kondisi tersebut menimbulkan tantangan baru. Sebab tradisi Islam tidak hanya bertanya, "Apa isi pengetahuan ini?" tetapi juga, "Siapa yang menyampaikannya? Dari siapa ia belajar? Apakah sumbernya dapat dipercaya?"

Baca juga: Padahal AI Tidak Bisa Bertakwa, Kecerdasan Tidak Sama dengan Kesadaran Spiritual

Perbedaan ini tidak berarti bahwa AI bertentangan dengan konsep sanad. Justru sebaliknya, perkembangan AI mengingatkan kita akan pentingnya nilai yang selama ini diwariskan oleh tradisi keilmuan Islam. 

Ketika informasi dapat diproduksi dalam jumlah yang hampir tak terbatas, kebutuhan terhadap verifikasi justru semakin besar. Semakin mudah memperoleh jawaban, semakin tinggi pula tanggung jawab untuk memastikan asal-usulnya.

Di sinilah konsep sanad menemukan relevansi baru. Sanad bukan sekadar daftar nama guru yang hidup pada masa lampau. Tetapi budaya intelektual yang menanamkan sikap kritis, rendah hati, dan bertanggung jawab terhadap setiap ilmu yang diterima. 

Sanad mengajarkan bahwa pengetahuan bukan hanya soal kecepatan memperoleh jawaban, tetapi juga tentang kejujuran dalam menelusuri sumber kebenaran.

Budaya inilah yang layak dibawa ke era Artificial Intelligence. Ketika menggunakan AI untuk mempelajari agama, kita tidak cukup hanya bertanya, "Apa jawabannya?" Kita juga perlu bertanya, "Apa rujukannya? Pendapat siapa yang digunakan? Apakah terdapat perbedaan pandangan ulama? Dapatkah penjelasan itu diverifikasi melalui kitab-kitab yang otoritatif?"

Baca juga: Telah Datang Era Dimana Ustadz Tidak Selalu Manusia, Menguji Ulang Otoritas Keagamaan di Era Kecerdasan Buatan

Dengan cara demikian, AI tidak menjadi pengganti tradisi keilmuan Islam, tetapi justru menjadi pintu yang mengantarkan kita untuk belajar lebih mendalam. AI dapat mempercepat pencarian informasi, tetapi proses memahami, mengkritisi, dan menghayati ilmu tetap memerlukan bimbingan manusia yang memiliki kompetensi dan tanggung jawab ilmiah.

Mungkin inilah hikmah yang dapat kita petik dari perjumpaan antara Islam dan Artificial Intelligence. Di saat teknologi membuat pengetahuan semakin cepat mengalir, Islam mengingatkan bahwa kecepatan tidak pernah boleh menggantikan ketelitian. 

Di saat algoritma mampu merangkum ribuan halaman dalam beberapa detik, tradisi sanad mengajarkan bahwa ilmu yang benar tetap memerlukan kejelasan asal-usul dan integritas penyampainya.

Masa depan boleh saja dipenuhi oleh mesin yang semakin cerdas. Namun selama manusia masih mencari kebenaran, maka pertanyaan akan selalu relevan untuk diajukan adalah: “dari mana ilmu itu berasal, dan kepada siapa kita mempertanggungjawabkan kepercayaan kita?”

 

Editor : Alim Perdana

Wisata dan Kuliner
Berita Populer
Berita Terbaru